HEART OF INDONESIA

bali-map

Advertisements

BOANERGES FESTIVAL 2009

boanerges-festival-09-tiberias

boanerges-2009

Boanerges Festival 2009

Boanerges Festival is a gospel rean annual youth festival for all youths from many backgrounds and across denominations, to empower the youths with excellence and greatness in every area of their lives, by bringing alive the truth in their hearts with the grace of Jesus.

The festival consists of various programs and activities, including youth concert, seminars, workshops, community services activities and competitions (e.g. sports, music, creative arts etc.).

This festival is held in Jakarta and will also extend to other parts in Indonesia, including Bandung, Surabaya, Batam, Manado and Makassar.

T3 TERMINAL 3 BANDARA SOEKARNO-HATTA

map-web

terminal-3-baru

jaj1pc

1zpjear

t3

board_06

airport

TERMINAL 3 BANDARA SOEKARNO HATTA

PELAYANAN kepada penumpang akan dilakukan maskapai penerbangan Mandala Airlines dan Indonesia AirAsia di Pier 1 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, mulai 6 April 2009. Terminal yang dibangun dengan dana Rp 300 miliar yang didedikasikan untuk penerbangan domestik ini merupakan pionir dari eco-airport di Indonesia.

“Mandala dan Air Asia akan jauh lebih nyaman melayani jasa penerbangan dengan memanfaatkan Pier I Terminal 3. Selain tak tercampur dengan penerbangan lain, pengelolaan terminal 3 yang mampu menampung 4 juta penumpang setahun ini diskenariokan lebih tertib,” cetus Direktur Utama PT Angkasa Pura (PAP) II Edie Haryoto didampingi pimpinan proyek Raffi, kepada tabloid-onboard.com, kemarin.

Kenyamanan pengguna jasa Terminal 3 akan lebih terasa bila kelak dibangun Stasiun Kereta Bandara, yang lokasinya di samping areal parkir Terminal 3. “Kami juga merencanakan membangun terminal ini terkoneksi dengan Terminal I dan II. Bukan melalui jalan, penghubungannya adalah bangunan sehingga terintegrasi,” jelasnya.

Karena perpindahan operasional dari Terminal IC maka sejak sekarang Mandala dan Indonesia AirAsia mulai menyiapkan segala aspek administratif dan teknis sehingga bisa smooth ketika dimulainya operasional di Terminal 3. “Kami mengharapkan kedua penerbangan tersebut menambah data di boarding pass tentang zona ruang tunggu,” harap Edie.

Setelah Mandala Airlines dan Indonesia AirAsia pindah, Terminal 1C yang kosong akan segera direnovasi. “Setelah renovasi selesai, kita geser maskapai yang di terminal 1B menempati 1C. Selanjutnya, 1B akan kita renovasi juga. Terus berturut seperti itu sampai proses pembenahan untuk meningkatkan mutu pelayanan terhadap penumpang ini selesai,” papar Edie.

Pier I Terminal 3 memiliki luas keseluruhan 30.000 meter. Bangunannya sendiri memanjang 800 meter. Di dalam terminal sengaja didesain agar alur penumpang datang dan pergi bertemu di commercial area. Setelah check-in di ruangan seluas 2.231 meter dengan 30 counter check-in, penumpang langsung memasuki areal komersial. Begitu juga penumpang yang datang, jalurnya ke areal yang sama. Areal komersial ini memiliki 4 modul dengan luas 3.200 meter.

“Tak hanya penumpang, pengantar, penjemput atau masyarakat umum juga dapat masuk ke area komersial. Hanya saja, untuk masyarakat umum memasuki pintu di samping pintu keberangkatan. Mereka tetap diperiksa oleh petugas dengan dilengkapi peralatan X-Ray,” tutur Edie sambil mengemukakan hampir keseluruhan areal komersial sudah dipesan oleh pengusaha retail.

LEVEL I DAN II
Di lantai dasar (level I) Terminal 3, selain digunakan untuk check-in dan commercial area, juga dimanfaatkan untuk baggage claim serta lost and found. Sedangkan di lantai atas (level II), tersedia juga commercial area dan boarding lounge. Untuk boarding lounge terdapat 10 zone seluas 7.874 meter.

Hanya calon penumpang yang bisa masuk boarding lounge, yang lantainya dilapisi karpet kelas I dan bercorak kontemporer. Menjelang ruangan ini disediakan meja pemeriksaan yang dilengkapi X-Ray. “Kami juga menerapkan tak ada kegiatan komersial di boarding lounge,” ungkap Edie.

Ruang dalam Terminal 3 didesain dengan penerangan yang hemat penggunaan listrik. Tidak ada satupun lampu di atap paling atas. Penerangan memanfaatkan sinar matahari yang masuk melalui kaca-kaca di antara sekat atap. Lampu-lampu justru ditempatkan di tiang dengan arah penyinaran vertikal ke langit gedung.

“Kalau siang memang tidak butuh lampu. Sedangkan bila malam, lampu yang digunakan juga sedikit. Lampu-lampu ini justru dipancarkan ke atap yang kemudian dipantulkan kembali sehingga menimbulkan efek cahaya yang tak hanya terang, tetapi juga lebih artistik. Nyeni banget desain tiang dan sistem penyinarannya,” jelas Edie.

Sentuhan eco-airport ditegaskan melalui deretan tanaman dan dominasi cat hijau toska muda di dinding. Sedangkan nuansa mederen ditekankan pada tiang-tiang penyangga dan langit-langit yang dibungkus dengan cat metalik. Desain interiornya memang menjadi daya tarik besar untuk menatapnya berlama-lama.

Untuk kenyamanan pengguna jasa, terminal ini menyediakan juga ruang perkantoran seluas 438 meter, toilet 602 meter, musholla seluas 162,36 meter dan lahan parkir 40.000 meter. “Terdapat dua gate untuk menuju apron yang mampu menampung enam pesawat,” ujar direktur utama.

DIPUJI MENHUB
Fasilitas anyar ini pantas saja mendapat pujian dari Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal. ”Hebat. Ini eco-airport (bandara ramah lingkungan) pertama di Indonesia yang desainnya mengusung azas penyesuaian diri dengan lingkungan. Banyak pepohonan dan tidak pakai lampu di siang hari,” ungkap Menhub kepada wartawan.

Desain terminal ini memang sangat berbeda dengan terminal 1 dan 2 sehingga lebih monumental. Baik tampilan eksteriror maupun interior, tak sedikit pun mengadopsi konsep terminal terdahulu. ”Konsep open space-nya bagus. Ini betul Edie Haryoto Design,” lanjut Menhub.

LIMA PIER
Setelah pembangunan Pier I selesai, Edie Haryoto mengungkapkan manajemen PT Angkasa Pura II memprogramkan pembangunan empat pier lainnya, yang saling terkoneksi bangunannya. “Sehingga Terminal 3 ini akan mampu menampung 20 penumpang setahun,” jelasnya.

Bila menggunakan asumsi biaya pembangunan Pier I Rp 300 miliar maka untuk pembangunan lima pier akan menelan dana Rp 1,5 triliun. “Kita usahakan dengan dana sendiri. Kalau tidak bias, ya menggandeng investor atau menggunakan dana publik melalui pasar obligasi atau saham,” ujarnya.

CATATAN : Sudah ada beberapa restoran dan cafe yang beroperasi di Terminal 3 ini. Jadi jangan kuatir akan fasilitas untuk mengisi perut seperti J.CO – Baso Ino – Puff Beard Papa – Circle K. Fasilitas penarikan uang juga sudah ada (ATM) : Bank Mandiri, Bank Panin . Bagi Anda yang suka browsing internet, di Teminal 3 ini juga tersedia FREE WIFI. Tersedianya tempat duduk yang banyak dan lingkungan yang asri menjadikan para penumpang betah dalam menunggu jam keberangkatannya. Kekurangan dari Terminal ini adalah bergemanya suara panggilan dari bagian informasi keberangkatan, mungkin dikarenakan Terminal ini mempunyai atap yang cukup tinggi. HAVE A NICE FLIGHTS GUYS!

banner datar baru

Thank You From Us

thank-u

Terima kasih kepada seluruh pengunjung yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca blog ini. Freshshortcuts dibuat untuk memberikan inspirasi kepada pembaca untuk mengisi daily activities. Banyak sekali masukan yang diberikan kepada kami, dan kami sangat menghargai masukan (advice) dari teman-teman semua. Materi dari blog ini diambil dari beberapa sumber dan kami membuat shortcuts agar pengunjung mudah untuk mencarinya. Freshshortcuts mengharapkan para pengunjung blog ini untuk mengisi kolom comment yang telah tersedia agar kami bisa melihat respond dari masing-masing topik.

Saat ini kami mulai meletakkan tag “most wanted” dengan artian topik tersebut sering dicari atau dibaca oleh pengunjung blog ini. Segala isi materi dan gambar mengenai dunia pariwisata Indonesia, kami ambil dari berbagai macam sumber dan kami gunakan hanya untuk kepentingan penyebaran informasi dan tidak untuk komersial.

Selamat menjelajah blog ini, dan sampai comment ada di setiap topik yang agak menggelitik pikiran Anda.

Good Day!

CINTAI JAKARTA APA ADANYA

banner-love-jakarta

TRANSJAKARTA : DISUKA & DIBENCI

tj01

SEJARAH TRANSJAKARTA

Transjakarta memulai operasinya pada 15 Januari 2004 dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, bus Transjakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain TransJakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah.

Pada saat awal beroperasi, TransJakarta mengalami banyak masalah, salah satunya adalah ketika atap salah satu busnya menghantam terowongan rel kereta api. Selain itu, banyak dari bus-bus tersebut yang mengalami kerusakan, baik pintu, tombol pemberitahuan lokasi halte, hingga lampu yang lepas.

Selama dua minggu pertama, dari 15 Januari 2004 hingga 30 Januari 2004, bus Transjakarta memberikan pelayanan secara gratis. Kesempatan itu digunakan untuk sosialisasi, di mana warga Jakarta untuk pertama kalinya mengenal sistem transportasi yang baru. Lalu, mulai 1 Februari 2005, bus Transjakarta mulai beroperasi secara komersil.

Sejak Hari Kartini (21 April) 2005, TransJakarta memiliki pramudi perempuan sebagai wujud emansipasi wanita. Pengelola menargetkan bahwa nanti jumlah pramudi wanita mencapai 30% dari keseluruhan jumlah pramudi. Sampai dengan bulan Mei 2006, sudah ada lebih dari 50 orang pramudi wanita.

DESAIN BUS TRANSJAKARTA

Bus-bus ini dibangun dengan menggunakan bahan-bahan pilihan. Untuk interior langit-langit bus, menggunakan bahan yang tahan api sehingga jika terjadi percikan api tidak akan menjalar. Untuk kerangkanya, menggunakan Galvanil, suatu jenis logam campuran seng dan besi yang kokoh dan tahan karat.

Bus Transjakarta memiliki pintu yang terletak lebih tinggi dibanding bus lain sehingga hanya dapat dinaiki dari halte khusus busway (juga dikenal dengan sebutan shelter). Pintu tersebut terletak di bagian tengah kanan dan kiri.

Pintu bus menggunakan sistem lipat otomatis yang dapat dikendalikan dari konsol yang ada di panel pengemudi. Untuk bus koridor II dan III dan seterusnya, mekanisme pembukaan pintu telah diubah menjadi sistem geser untuk lebih mengakomodasi padatnya penumpang pada jam-jam tertentu, di dekat kursi-kursi penumpang yang bagian belakangnya merupakan jalur pergeseran pintu, dipasang pengaman yang terbuat dari gelas akrilik untuk menghindari terbenturnya bagian tubuh penumpang oleh pintu yang bergeser.

Setiap bus dilengkapi dengan papan pengumuman elektronik dan pengeras suara yang memberitahukan halte yang akan segera dilalui kepada para penumpang dalam 2 bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setiap bus juga dilengkapi dengan sarana komunikasi radio panggil yang memungkinkan pengemudi untuk memberikan dan mendapatkan informasi terkini mengenai kemacetan, kecelakaan, barang penumpang yang tertinggal, dan lain-lain.

Untuk keselamatan penumpang disediakan 10 buah palu pemecah kaca yang terpasang di beberapa bingkai jendela dan 2 buah pintu darurat yang bisa dibuka secara manual untuk keperluan evakuasi cepat dalam keadaan darurat, serta dua tabung pemadam api di depan dan di belakang. Untuk menjaga agar udara tetap segar, terutama pada jam-jam sibuk, mulai bulan Januari 2005 secara bertahap di setiap bus telah di pasang alat pengharum ruangan otomatis, yang secara berkala akan melakukan penyemportan parfum.

HALTE/ SHELTER TRANSJAKARTA

profil-tj-halteHalte-halte Transjakarta berbeda dari halte-halte bus biasa. Selain letaknya yang berada di tengah jalan, bahkan di halte di depan gedung pertokoan Sarinah dan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, diberi fasilitas lift.

Kontruksi halte didominasi oleh bahan alumunium, baja, dan kaca. Ventilasi udara diberikan dengan menyediakan kisi-kisi alumunium pada sisi halte. Lantai halte dibuat dari pelat baja. Pintu halte menggunakan sistem geser otomatis yang akan lansung terbuka pada saat bus telah merapat di halte. Jembatan penyebrangan yang menjadi penghubung halte dibuat landai (dengan perkecualian beberapa halte, seperti halte Bunderan HI) agar lebih ramah terhadap orang cacat. Lantai jembatan menggunakan bahan yang sama dengan lantai halte (dengan pengecualian pada beberapa jembatan penyeberangan seperti halte Jelambar dan Bendungan Hilir yang masih menggunakan konstruksi beton)

Waktu beroperasi halte-halte ini adalah 05:00 – 22:00. Apabila setelah pukul 22:00 masih ada penumpang di dalam halte yang belum terangkut karena kendala teknis operasional, maka jadwal operasi akan diperpanjang secukupnya untuk mengakomodasi kepentingan para penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket tersebut.

GRAND INDONESIA

tag-jakarta

GRAND INDONESIA, JAKARTA

The Grand Indonesia Tower shines brightly along the main boulevard in Jakarta. Perhaps the most spectacular video cladding has been applied to the Grand Indonesia Tower in Jakarta. The 3.7-million-sq.-ft., mixed-use center, which is still under construction, features retail stores, a hotel and, as its centerpiece, a 57-story office tower. The building was created by Darryl Yamamoto, AIA, director of Austin Veum Robbins Partners (AVRP) and Mixed Use Studio, both of Los Angeles (AVRP also has a San Diego office). Yamamoto was formerly with RTKL, where he designed the project. “Essentially, the LED grid followed the form of the building’s curtain wall,” Yamamoto said. “Thus, the LED video strips were mounted against the building in several types of formations. In some instances, where there was glass, the LED video strips were placed inside the glass, facing outwards towards the public. Where there were opaque, metal panels on the building skin, the LED strips were recessed into reveals.” The tower’s entire, front façade is covered with at least 60,000 sq. ft. of LED arrays. The 96-ft.-wide x 420-ft.-tall screen comprises approximately three-fourths of that space. The building crown and side walls will also feature LED lighting, which will draw attention to the front of building displays. While LED lighting has become very “che-che” with architects, a few visionary building developers see the value of video walls as part of their buildings’ design. Ideally, a perfect design would combine both lighting and video into a complete, visual motif. Yamamoto observed that a building is normally defined by its exterior shape and, in some instances, the use of exterior lighting, which emphasizes that shape. “Up to now, architecture has been about fitting buildings into 3-D space,” Yamamoto said. “Videoscreens that completely cover a building’s surface change the equation of how a building occupies that space. In a sense, a videoscreen covering a building surface places it in a fourth dimension, where pictorial and iconic imagery now become a representational feature of how the building presents itself.” Standard (Los Angeles), a company that develops architecturally integrated, multimedia installations, developed the tower’s videoscreen and is designing its content. Adrian Velicescu, Standard’s president, said, “This building isn’t only the largest skyscraper in Jakarta,” he noted, “but, upon completion [in 2007], its videoscreen will be the largest LED display in the world.” The screen is being manufactured by Odeco (Barcelona, Spain) and EuroSmartVision (Antony, France). TransMedia Wall, the Grand Indonesia Tower’s video wall, has been developed in collaboration between Standard and EuroSmartVision. Velicescu stated, “Very large videoscreens aren’t just billboards. These screens also have a social responsibility to offer a ‘civil function’ beyond just advertising and branding messages. Kinetic art and socially relevant iconic graphics will also be shown on the building face. We believe that content should have some direct relationship to its surrounding community. “We perceive about half the building’s sign content will be revenue based, and the other half will be public-service announcements and art,” Velicescu said. “All of this content will be designed with a natural visual pacing to make it compelling and more universally accepted by its viewing audiences.”